PORTOFOLIO DRAMA
DRAMA
Syahira anandita Putri Abdy X.D
Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia
DRAMA BERDASARKAN PENYAJIANNYA
1. Drama Panggung – Raka dan Mimpinya
Drama yang dipentaskan langsung di atas panggung di depan penonton.**
Contoh:
(Lampu sorot menyala perlahan. Panggung menampilkan sebuah rumah tua di tepi sawah. Hujan rintik terdengar.)
Ibu (duduk gelisah) : Raka… sudah larut malam, kenapa dia belum pulang juga?
Ayah (menutup jendela) : Anak itu selalu keras kepala.
(Pintu terbuka keras. Raka masuk dengan pakaian basah.)
Raka : Maaf, Bu… aku pulang terlambat. Ada latihan teater di sekolah.
Ibu : Kau membuat kami cemas, Nak.
Raka (menurunkan tas) : Aku ingin ikut lomba teater provinsi. Ini penting untukku.
Ayah (suasana menegang) : Sudah kubilang, itu tidak ada masa depannya! Kau anak petani, bukan pemain sandiwara!
(Raka terdiam. Hujan semakin deras. Lampu meredup menutup adegan.)
2. Drama Radio – Suara dari Laut Selatan
Drama yang disajikan melalui siaran radio tanpa visual.**
Contoh:
(Suara ombak, angin kencang, langkah kaki di pasir.)
Narator : Malam itu, Danang berjalan sendirian di pantai, mencari ayahnya yang hilang saat melaut.
Danang : Ayah… kalau kau bisa dengar, beri aku tanda.
(Suara kentongan kapal dari kejauhan.)
Suara Aneh : Danaaang…
Danang (kaget) : Siapa itu?!
(Ombak menghantam keras.)
Narator : Suara itu bukan suara manusia. Itulah suara yang katanya membawa arwah para pelaut. Danang harus memilih untuk lari atau mengikutinya…
3. Drama Televisi – Pelangi Setelah Hujan
(Kamera menyorot halaman sekolah setelah hujan reda. Musik lembut terdengar.)
Sisi : Kamu nggak apa-apa? Tadi aku lihat kamu jatuh dari sepeda.
Ardi (tersenyum menahan sakit) : Aku baik-baik saja. Cuma malu dilihat orang-orang.
(Kamera close-up wajah Ardi.)
Sisi : Jangan malu. Semua orang bisa jatuh, yang penting kamu berani bangkit.
(Musik naik. Adegan berpindah ke ruang UKS.)
Ardi : Sisi… terima kasih ya. Kamu seperti pelangi setelah hujan.
(Sisi tersenyum. Kamera fade out.)
DRAMA BERDASARKAN ISINYA
1. Drama Komedi – Tukang Bubur Jadi Menteri
(Panggung pasar ramai. Tukang bubur bernama Dudin mengangkat panci.)
Dudin : Siapa mau bubur gratis? Hari ini aku ulang tahun!
(Warga menyerbu.)
Warga : Buburnya tumpah! Waduh!
(Seorang pejabat lewat dan terpeleset bubur.)
Pejabat : HEI! Siapa yang bikin lantai seperti kolam bubur?!
Dudin (bangga) : Saya, Pak. Asli kuah sendiri!
(Penonton tertawa. Pejabat akhirnya justru memuji buburnya.)
2. Drama Melodrama – Ratapan di Ujung Senja
(Musik sendu. Seorang ibu menggenggam foto anaknya.)
Ibu : Andi… kapan kamu pulang, Nak? Ibu rindu.
(Tetangga datang membawa surat.)
Tetangga : Bu… ini ada surat dari rumah sakit.
Ibu (gemetar) : Jangan bilang… jangan ambil Andi dariku…
(Air mata jatuh. Musik mengalun sangat emosional.)
3. Drama Tragedi – Satu Janji yang Terlambat
(Panggung gelap. Mira duduk di samping seorang lelaki yang sekarat.)
Mira (menangis) : Raka… bertahanlah. Aku sudah memaafkanmu.
Raka (lemah) : Terlambat… aku seharusnya mendengarkanmu sejak dulu…
(Petir menggelegar. Raka menghembuskan napas terakhir.)
Mira (menjerit) : Raka!!! Jangan tinggalkan aku!!!
(Lampu padam total. Musik tragedi terdengar.)
4. Drama Tragikomedi – Nasib Si Paijo
Paijo : Aduh… kenapa hidupku sial terus?
(Genteng rumah jatuh tepat di samping kakinya.)
Tetangga : Untung nggak kena kamu, Jo!
Paijo : Untung? Genteng jatuh tiap hari… cuma untungnya nggak niban aku aja!
(Seekor ayam muncul dan mencuri nasi Paijo.)
Paijo (menangis sambil tertawa) : Bahkan ayam pun nggak kasihan sama aku!
Komentar
Posting Komentar